Senin, 29 Maret 2010

My Birthday - Jadikan aku indah

Minggu, 28 Maret 2010

Hari ini adalah hari ulang tahunku. Seperti biasa minggu pagi aku menuju ke gereja dengan mengendarai mobilku. Aku menyetel radio Maestro. Seperti biasa, PRof Bambang Widjaja mengulas tentang kehidupan Tuhan Yesus. Ayat yang dia ambil pada minggu pagi itu adalah di antaranya tentang "siapa yang meminta engkau berjalan satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil". Menurutnya, arti dari ayat itu adalah, kita harus menunaikan kewajiban kita, bahkan memberikan lebih dari kewajiban kita. Kemudian dia menerapkannya pada dunia kerja. Ada salah satu jemaatnya yang berkonsultasi kepadanya, bolehkah dia bermalas2an dalam kerja karena dia menganggap gajinya terlalu kecil, lembur pun tak dibayar. Prof Bambang mengatakan bahwa, sesuai dengan firman, kita tidak boleh bermalas2an, kita harus mengerjakan bagian kita dengan rajin. Jika dirasa gaji kekecilan, minta petunjuk Tuhan apakah kita perlu keluar dari perush kita untuk mencari perush lain di mana gajinya lebih sesuai dengan yang kita inginkan. Namun jika kita tetap di perush semula, kita tetap harus mengerjakan pekerjaan kita dengan sepenuh hati, bahkan harus memberikan lebih (ingat ayat tadi).

Di gereja, satu pujian dinyanyikan yang liriknya sbb:

Kudatang ya Bapa, dalam kerinduan
Memandang keindahanMU
Kuberikan sgalanya, semuanya yang ada
Kuingin menyenangkan hatiMU, oh Tuhan

Jadikan aku indah
yang Kau pandang mulia
Seturut karyaMU
di dalam hidupku
Ajarku berharap
hanya kepadaMU
Taat dan setia
kepadaMU Tuhan

Ketika aku menyanyikan lagu itu, seakan itu menjadi doaku di hari ultahku ini. Aku ingin menjadi indah dan mulia seturut dengan kehendak Tuhan. Aku ingin dibentuk seturut dengan kehendak Tuhan.

Tuhan mau memakai kita semua sebagai alat di tanganNYA untuk mewujudkan rencanaNYA atas bumi ini. Kita semua adalah keping puzzle, masing2 punya peran tersendiri yang tidak tergantikan oleh orang lain. Satu keping puzzle hilang, puzzle itu tidak akan utuh & jadi indah. Demikian kita, diciptakan unik, yang harus kita lakukan adalah berharap, taat, & setia, biarkan DIA berkarya melalui kita. Amen.

Minggu, 28 Maret 2010

Menarik Hal yang Positif dari Setiap Peristiwa - Kasus Ban Bocor

Kamis, 25 Maret 2010

Sore itu seperti biasa aku bersiap-siap untuk pulang kerja. Cuaca sore itu cukup cerah, tidak seperti biasanya yang mendung ataupun hujan. Seperti biasa aku melakukan ritual untuk bersiap pulang, membereskan meja, pergi ke toilet, berdandan sebentar, dan pulang. Sekilas aku melihat teman seruanganku sudah membawa tasnya dan keluar ruangan.

Ketika aku keluar kantor dan menuju tempat parkir mobil, kulihat teman seruanganku yang tadi sedang menaiki motornya dan akan keluar pagar kantor. "Hai!" sapaku. Aku tak ingat kami sempat mengobrolkan apa, yang kuingat adalah dia menunjuk ke arah mobilku dan berkata, "Ci, koq ban mobilnya kempes?" Deg, jantungku berdetak keras. Buru-buru kuikuti arah telunjuk temanku. Upsss, ternyata benar, ban sebelah kiri belakang mobilku kempes. Seketika aku agak panik. Dan aku menggumam : "Duh, dimana ada tukang tambal ban ya?" Temanku menjawab,"Tuh ada, dekat, di depan, saya panggilin ya ci". Aku sedikit tenang.

Lalu aku pun beranjak keluar kantor dan menuju tempat tambal ban yang dimaksud. Temanku mengikuti dari belakang dengan menaiki motornya. Ketika sampai disana, tukangnya tidak ada. Lagi2 temanku membantuku, menanyakan pada tukang rokok yang ada di situ. Tukang rokok tersebut meneriaki tukang tambal ban yang kami cari. Tak sampai 1 menit, sang bapak tukang tambal ban datang. Lalu kami mengungkapkan hal yang kami alami. Si bapak dengan cekatan membawa peralatan dongkrak dan kunci, lalu mengikuti kami menuju kantor.

Sesampainya di kantor, ternyata kunci sok yang dia bawa tidak cocok dengan ban mobilku sehingga ban tidak bisa dibuka. Feelingku bilang bahwa kunci sok yang sesuai ada di bagasi mobilku. Namun ketika kami cari, tidak ketemu. Aku mulai kesal, tidak sabar, dan panik. Ketika aku mau masuk kantor kembali untuk menelepon papaku di rumah, pintu sudah dikunci dari dalam. Kebetulan anak dari penjaga rumah ada di luar dan melihat kejadian yang aku alami. Dengan kesal, aku menyuruh dia untuk membukakan pintu kantor dari dalam. Setelah dibuka dengan kesal aku bertanya pada papaku mengenai kunci sok. Ternyata memang ada di bagasi. Aku masih kesal, dan si bapak pun mencari kunci tersebut. Akhirnya ketemu. Ketika ban sudah dibuka, si bapak membawanya ke warungnya untuk dicek. Aku menunggu di kantor. Temanku belum pulang, dia menunggui aku. Lalu si bapak kembali lagi dan mengatakan bahwa ban sudah sobek dan tidak bisa dipakai. Dan ban serep yang ada di bagasi pun tidak bisa dipakai karena sudah kempes. Lalu si bapak mengajakku ke warungnya untuk membuktikan omongannya. Memang ban tersebut sudah sobek dan melendung, tidak akan kuat dipakai meskipun hanya sekedar si mobil sampai di rumah. Sedangkan ban serepku memakai ban dalam, dan si bapak tsb tidak bisa menambal ban dalam. Dia menawarkan untuk membetulkan ban dalam itu di tempat lain berjarak sekitar 200 meter dari situ. Aku bimbang, antara akan meninggalkan mobil di kantor atau akan memperbaiki ban dalam saat itu juga. Kalau mobil kutinggalkan di kantor, keesokan harinya bagaimana, toh mau tidak mau ban harus ditambal. Tapi kalau ban dibawa si bapak, apakah si bapak jujur. Dalam beberapa detik aku memutuskan untuk percaya si bapak. Dan aku menunggu di kantor sampai si ban selesai ditambal.

Hari sudah menunjukkan pukul 6.15. Temanku pamit pulang. Sungguh bersyukur ketika itu big boss akan meeting jam 7 sehingga little boss kembali lagi ke kantor. Dan my PM pun belum pulang. Aku cukup tenang karena di kantor masih banyak orang. 15 menit berlalu, aku teringat ucapan si bapak bahwa dia tidak akan lama perginya. Mulai ada rasa was-was. Seakan tahu isi hatiku, PM menakut2i, "jangan2 si bapak gak kembali lagi, mba." Halahhhh.. aku makin was-was, tapi aku menghibur diri, "tapi pak, dongkrak dan kunci soknya masih ada disini.."

Sesudah bicara seperti itu, aku masih was-was, aku keluar, melihat ke arah si bapak pergi. Belum juga kelihatan batang hidungnya. Hari makin malam. My little boss melihat kegelisahanku dan menenangkanku.

Sekitar jam 7 kurang si bapak pun kembali dengan membawa ban dalam. Dia bilang, tambal ban yang dekat sudah tutup dan dia berjalan ke stasiun. Karenanya membutuhkan waktu yang lama. Dia bilang bahwa ban dalamnya pun sudah sobek dan ukurannya tidak sesuai. Sedangkan ban luarnya ditinggal di stasiun. Ketika itu, my little boss & PM ikut mendengarkan. Si bapak bilang bahwa ada ban bekas, harga 60rb. Dan semua terserah aku apakah bannya akan diambil lagi dan tidak jadi diperbaiki, atau mau beli ban bekas. My little boss dan PM mengusulkan untuk besok lagi saja cari tambal ban, mobil ditinggal di kantor. Namun dalam beberapa detik, aku pun memutuskan bahwa akan membeli ban bekas tersebut seharga 60rb. My PM ikut nego, dia bilang "60rb itu dengan ongkos bapak?" Si Bapak jawab, "60rb hanya ongkos ban, sedangkan ongkos bolak balik, terserah ibu ini." Akhirnya kami menyetujui bahwa 60rb hanya untuk ban bekas. Setelah dia pergi, aku diskusi dengan PM dan akhirnya aku jatuh kasihan sama si bapak, dia harus bolak-balik kesana kemari bahkan dia mau menanyakan persetujuanku untuk mengganti ban dalam itu, padahal dia bisa saja langsung menggantikannya.

Tepat jam 7 my little boss rapat dengan my big boss. My PM belum pulang. Aku pun menyalakan komputer lagi dan makan roti pemberian supplier. Kebetulan, hari itu ada yang mengirimkan roti sehingga aku tidak lapar. Tidak berapa lama, jam 7.15, supir big boss datang dan menanyakan keadaan mobilku. Ketika aku keluar dan berbicara dengannya, beberapa staff yang tinggal di kantor ini pun datang. Benar2 bersyukur, malam ini sungguh ramai di kantor.

Sekitar jam 7.30, si bapak datang lagi dan singkatnya ban mobilku beres. Aku memberikan 100rb untuk dia dan dia bertanya, "kembaliannnya berapa?" Aku tersenyum dan bilang, "enggak usah pak. saya terima kasih sekali sudah dibantu." Dia pun mengucapkan terima kasih berulang-2. Aku pun mengucapkan terima kasih sekali lagi. Dia pun membereskan ban mobilku dan mengingatkanku bahwa kunci sok milikku sudah ditaruh di bagasi lagi. Ohh, aku makin bersyukur bisa ketemu si bapak yang baik ini.

Dari kejadian di atas aku benar2 merasa amaze & bersyukur untuk beberapa hal :
1. Untung ada temanku yang memberitahukan ban bocor, bagaimana kalau ketahuannya di jalan di mana gak ada orang yang dikenal yang bisa bantu? Dia pun mau membantuku untuk memanggil tukang tambal ban.
2. Untung hari itu tidak hujan sehingga aku maupun si bapak tidak kehujanan. Kalau hujan, mungkin ceritanya sudah lain lagi.
3. Untung hari itu kantor tidak sepi sampai malam karena ada rapat dengan big boss, kalau tidak, mungkin aku kebingungan sendiri.
4. Untung hari itu ada yang kirim roti sehingga perutku tidak lapar, karena biasanya kalau lapar aku sulit konsentrasi.
5. Tapi di atas semuanya itu, aku sangat bersyukur karena si bapak tambal ban. Betul2 tersentuh dengan apa yang dia lakukan, dia bersedia jalan sana sini, bahkan minta persetujuanku untuk mengganti ban bekas, ketika dia kembali aku lihat keringat sudah menempel di bajunya.. Dan ketika kukasih uang itu pun dia masih bertanya masalah kembalian.

Andaikan, kelima hal di atas tidak terjadi, apa yang terjadi denganku?
Sering aku tidak bersyukur bahwa di tengah problem yang aku hadapi, Tuhan masih berbelas kasihan. Sering aku hanya melihat MASALAHnya saja, How big my problem is, Why am I always in trouble (especially about car), Why doesn't it run smoothly? And many "why" more. Padahal, semua itu terjadi padaku untuk menempa aku untuk dapat berespon dengan lebih baik lagi terhadap masalah, bagaimana aku memetik hikmah dan hal positif dari yang aku hadapi. Tuhan, aku ingin bereaksi dan berespon dengan lebih baik lagi, aku ingin bisa mengendalikan emosi maupun hal-hal negatif yang selalu muncul ketika masalah menghadang. Tuhan tolong aku, sehingga aku bertambah dewasa dan dapat menyenangkan TUhan, jadi berkat bagi sekitarku. Amen.